Ada Apa Dengan Blue Bottle?

Neymar adalah sosok yang membuat heboh jagat sepak bola pada bursa transfer musim panas 2017 lalu. Dibutuhkan 222 juta euro (setara Rp 3,4 triliun) untuk membuat bintang asal Brasil itu mengenakan seragam Paris Saint-Gemain, serta sekaligus memecahkan rekor transfer termahal dunia. Sementara itu, dunia perkopian internasional tampaknya tak mau ketinggalan. Hal yang kurang lebih sama terjadi di dunia perkopian internasional. Akhir pekan lalu, coffee enthusiasts ramai membicarakan langkah akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan raksasa asal Swiss, Nestle terhadap salah satu gerai kopi asal California, Blue Bottle.

Layaknya Starbucks yang menjadi penanda era second waves coffee, Blue Bottle dianggap sebagai simbol dari third waves coffee di wilayah San Fransisco, California. Sejak berdiri pada awal 2002 Blue Bottle tercatat sudah memiliki 29 gerai di beberapa kota besar seperti New York, Washington, bahkan Tokyo. Dalam rencana jangka pendek ke depan, Blue Bottle menargetkan untuk memiliki 50 gerai pada akhir 2017.

Akuisisi yang dilakukan Nestle terhadap 68 persen saham Blue Bottle tersebut bernilai 425 juta dollar Amerika (setara Rp 5,6 triliun). Sebuah angka yang fantastis, bahkan mengalahkan harga Neymar sebagai pemain termahal di dunia sekalipun. Total investasi ini akan semakin bernilai jika Blue Bottle mampu membuka cabang di seluruh kota besar dunia. Sehingga Blue Bottle bisa menunaikan tagline-nya “to deliver the coffees we love, by farmers we admire, into your hands or onto your doorstep.”

Namun tampaknya langkah akuisisi ini menyudutkan Blue Bottle pada sebuah dilema. Sebagai salah satu simbol third waves coffee, Blue Bottle dicap sebagai pengkhianat dan perusahaan haus uang oleh barisan pelanggan setianya. Lontaran kekecewaan ini bergulir di media sosial, penyebabnya tak lain karena Blue Bottle yang awalnya digadang-gadang sebagai tonggak perlawanan terhadap perusahaan kapitalis—yang lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas—akhirnya justru menyerah pada cengkraman kapitalisme itu sendiri. Hal lain yang tak kalah menyedihkannya dari langkah akuisisi ini adalah tergerusnya “Oakland Pride” yang selama ini disematkan pada Blue Bottle.

Pada akhirnya saya berpendapat bahwa langkah akuisisi bukan semata soal benar-salah. Saya meyakini bahwa akuisisi yang disetujui oleh Blue Bottle ini merupakan upaya mereka untuk membuka kesempatan dan kemungkinan baru di masa depan. Akuisisi ini juga dibutuhkan agar inovasi di dalam Blue Bottle terus bergulir, tidak stagnan. Tentu dengan harapan supaya Blue Bottle menemukan titik keseimbangannya, kuat secara “ideologi” maupun secara ekonomi. Singkatnya, ini adalah upaya Blue Bottle agar tidak “gini-gini aja”.

Berikut beberapa akuisisi perusahaan di bidang kopi:

  • 2012 – Starbucks mengakuisisi La Boulange senilai 100 juta dolar Amerika. La Boulange tidak lama kemudian berhenti beroperasi karena menu ice lemon pound cake dan bluberry scone tidak laku.
  • 2014 – Burger Kings mengakuisisi Tim Horton, perusahaan donat dan kopi yang hingga sekarang sukses dan masih bertahan.  Total pendapatannya pada tahun 2016 sebesar 4,15 milliar dolar Amerika.
  • 2015 – JAB Holding Company mengakuisisi beberapa perusahaan di bidang kopi di antaranya Intelligentsia Coffee & Tea, Caribou Coffee Company, dan Peet’s Coffe & Tea. Deretan perusahaan tersebut sampai sekarang masih eksis di dunia kopi Amerika.

(YYT/KCK)

Comments